Kamis, 19 November 2020

Apresiasi Puisi Semester 5 - Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Pendahuluan

Sastra merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia sebagai makhluk berbudaya. Sastra menjadi hal yang urgen karena di dalamnya banyak mengandung dimensi. Dimensi tersebut diantaranya dimensi keindahan, dimensi moralitas, etis, dan sejumlah pengetahuan tentang kehidupan yang menyebabkan sastra bersifat evokatif dan sugestif. Setidaknya terdapat empat aspek yang dapat direkomendasikan sastra dalam memberikan nilai pendidikan bagi anak. Keempat aspek itu adalah aspek perkembangan bahasa, aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan kepribadian, dan aspek perkembangan sosial.

Seniman dalam membuat karya seni bukan semata-mata untuk kepentingan pribadinya. Didorong oleh keyakinan bahwa apa yang dirasakan indah dan berguna bagi dirinya, juga indah dan berguna bagi orang lain. Namun, pada kenyataanya tidak semua orang mampu dengan mudah menafsirkan makna yang terkandung dalam puisi karena penyair dalam penggunaan kata-kata pada karyanya sering menggunakan pemajasan dan bermakna konotatif. Hal ini yang dirasa sulit dipahami oleh orang awam.

Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Sedangkan kata poet dalam tradisi Yunani Kuno berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Karya sastra pada dasarnya merupakan ungkapan penulis terhadap keadaan dan pengalaman hidup yang menggunakan media bahasa sebagai perantara atau pengungkapan ekspresi. Oleh sebab itu, karya sastra pada umumnya, berisi tentang permasalahan yang melingkupi dalam kehidupan manusia. Kemunculan sastra lahir dilatar belakangi adanya dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksistensi dirinya.

Karya sastra yang perkembangannya sangat pesat yaitu puisi. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia sebenarnya telah bersastra yaitu dengan mantra, doa-doa untuk dewa  atau nenek moyang. Hal ini menunjukkan bahwa peran puisi dalam kehidupan merupakan sesuatu yang dominan dalam menunjukkan jati diri hidup.

Jika melihat hakikat dari puisi yaitu salah satu bentuk karya sastra yang diungkapkan dengan menggunakan bahasa yang padat, mendobrak dan penuh dengan makna. Puisi dibentuk oleh kata-kata yang benar-benar terpilih, terseleksi dan melalui proses yang ketat. Puisi merupakan hasil ungkapan perasaan penyair yang dituangkan melalui kata-kata atau bahasa yang sengaja dipilih penyair untuk mewakili perasaannya. Dalam pengertian ini, maka makna dalam puisi menyatakan sesuatu secara tak langsung, yaitu mengatakan sesuatu hal dengan arti yang lain atau makna dibalik susunan kata-kata dan tipografinya.

Sebagai salah satu jenis sastra, puisi merupakan pernyataan sastra yang paling utama. Segala unsur sastra mengental dalam puisi. Puisi mengandung karya estetis yang bermakna, mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, merangsang panca indra dalam susunan yang berirama. Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang diubah dalam wujud yang paling berkesan.

Melalui puisi kita dapat merasakan tawa, tangis, senyum, berfikir, merenung, terharu bahkan emosi dan marah. Sampai saat ini, puisi selalu mengikat hati dan digemari oleh semua lapisan masyarakat karena keindahan dan keunikannya. Oleh karena kemajuan masyarakat dari masa kemasa selalu meningkat, maka corak, sifat dan bentuk puisi selalu berubah, mengikuti perkembangan konsep estetika yang selalu berubah dan kemajuan intelektual yang selalu meningkat.

Kondisi pengajaran sastra di sekolah saat ini sangat memprihatinkan, pengajaran sastra termasuk puisi hanya dipandang sebagai mata pelajaran yang monoton. Hal ini dikarenakan daya apresiasi sastra hanya menekankan pada aspek afektif yang berkutat dengan rasa, nurani, nilai-nilai dan seterusnya. Selain itu, kesulitan dalam memaknai sebuah karya sastra, juga menjadi masalah yang dominan. Tentunya dibutuhkan sebuah cara atau teknik yang baru dalam mengajarkan puisi atau sastra. Melalui makalah ini, kami mencoba untuk membahas tentang hakikat puisi dan beberapa cara atau teknik dalam pengajaran puisi.

.

B.   Apresiasi

1.    Hakikat Apresiasi

Secara leksikal istilah apresiasi berasal dari kata benda appreciation yang berarti pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian, Hornby (Najid, 2002: 38). Kamus Oxford Learner memberi makna memahami dan menikmati atau memahami secara keseluruhan. Pengertian lain menyebutkan bahwa apresiasi dapat berarti pengenalan, pemahaman, dan penghargaan terhadap karya seni. Pengertian ini ditafsirkan dari bahasa lain apreciatio yang memiliki arti mengindahkan dan menghargai.

Beberapa pendapat tentang pengertian apresiasi dapat dikemukakan sebagai berikut. Efendi (Najid, 2002: 39) mengatakan bahwa apresiasi dapat diartikan sebagai aktivitas menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Dengan demikian, apresiasi adalah upaya untuk dapat mengerti karya sastra yang dapat dibaca dengan memahami maknanya, baik aktual maupun intensional dengan memahami seluk beluk karya sastra tersebut.

Mulyana (Semi, 1998: 91) memberikan batasan puisi dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik karena puisi merupakan karya seni yang tidak saja berhubungan dengan masalah bahasa, tetapi juga berhubungan dengan masalah jiwa. Dengan pendekatan terebut, beliau menyimpulkan bahwa puisi adalah sintesis dari berbagai puisi bahasa yang telah tersaring semurni mungkin dan berbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya tersusun dalam sistem kerespondesi dalam salah satu bentuk. Volerdge (dalam Prodopo, 1996: 6) mengemukakan bahwa puisi adalah kata-kata terindah dalam susunan terindah. Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diragukan.

Secara etimologis, apresiasi berasal dari bahasa Inggris appreciaton, kata itu berarti penghargaan, penilaian, pengertian, bentuk itu berasal dari kata verjato appreciate yang berarti menghargai, menilai, mengerti.

Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Apresiasi dikembangkan dengan menumbuhkan sikap sungguh-sungguh dan melaksanakan kegiatan apresiasi sebagai bagian hidupnya dan sebagai satu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya (Aminudin, 1987: 34).

Waluyo (2003: 44) mengemukakan bahwa apresiasi puisi adalah berkaitan dengan kegiatan yang ada sangkut-pautmya dengan puisi yaitu mendengar atau membaca puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh, menulis puisi, mendeklamasikan, dan menulis resensi puisi. Kegiatan ini meyebabkan seseorang memahami puisi secara mendalam (dengan penuh penghayatan), merasakan apa yang ditulis penyair, mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalam puisi, dan menghargai puisi dalam karya seni dengan keindahan atau kelemahanya. Sumardi dan Zaidan (2008: 7) mengatakan bahwa apresiasi puisi adalah sikap jiwa memperlakukan sajak sesuai dengan kadar seni dan kandungan isinya.

Kemampuan mengapresiasi puisi terwujud dalam berbagai bentuk, antara lain kegemaran membaca sajak dan keterampilan mendeklamasikan sajak itu. Dalam wujud yang lebih tinggi kemampuan mengapresiasi puisi dapat berupa keterampilan menulis esei tentang puisi, kemampuan menemukan dan merumuskan makna sajak itu dalam bentuk tulisan yang dapat dibaca dan dipahami orang lain. Kemampuan demikian dapat dicapai setelah berulang-ulang terlibat dalam pengalaman puitis, pengalaman membaca, dan menikmati secara langsung, bukan melalui teori atau kaidah-kaidah umum yang diutarakan buku pelajaran.

Sejalan dengan rumusan di atas menurut Squire dan Taba,

Apresiasi sebagai suatu proses melibatkan tiga unsur inti, yakni (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan (3) aspek evaluatif. Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca. Aspek eveluatif berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baik-buruk, indah-tidak indah, sesuai tidak sesuai, serta sejumlah ragam penilaian yang lain yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik tetapi secara personal cukup dimilki oleh pembaca (dalam Aminuddin 2009: 34).

Apresiasi dalam suatu karya mempunyai tingkatan. Waluyo (2002: 45) membagi tingkatan apresiasi meliputi, (1) tingkat menggemari, (2) tingkat menikmati, (3) tingkat mereaksi, dan (4) tingkat produktif. Pada tingkat menggemari keterlibatan pembaca batinnya belum kuat. Pada tingkat menikmati, keterlibatan batin pembaca terhadap karya sastra sudah semakin mendalam. Pada tingkat mereaksi, sikap kiritis terhadap karya sastra semakin menonjol karena ia mampu menafsirkan dengan seksama dan ia mampu menyatakan keindahan dan menunjukkan dimana letak keindahan itu. Pada tingkat produktif, apresiator puisi mampu menghasilkan, mengkritik, menghasilkan, mendeklamasikan, atau membuat resensi terhadap puisi secara tertulis.

Untuk melakukan apresiasi khususnya apresiasi puisi, pemahaman mendalam tentang apresiasi puisi memang perlu dilakukan. Agar tidak salah dalam melakukan apresiasi puisi, konsep apresiasi perlu dipahami dengan cermat. Apresiasi puisi terkait dengan sejumlah aktivitas yang berhubungan dengan puisi. Aktivitas yang dimaksud dapat berupa kegiatan membaca dan mendengarkan pembacaan puisi melalui penghayatan sungguh-sungguh (Waluyo, 2003: 19).

Apresiasi merupakan pengalaman lahiríah dan batiniah yang kompleks (Purnama, 2003: 10). Apresiasi seseorang terhadap puisi dapat dikembangkan dari tingkat sederhana ke tingkat yang tinggi. Apresiasi tingkat pertama terjadi apabila seseorang memahami atau merasakan pengalaman yang ada dalam sebuah puisi. Apresiasi tingkat kedua terjadi apabila daya intelektual pembaca bekerja lebih giat. Apresiasi tingkat tiga, pembaca menyadari hubungan kerja sastra dengan dunia luarnya, sehingga pemahamannya pun lebih luas dan mendalam.

Apresiasi puisi berkaitan dengan kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan puisi, yaitu mendengar atau membaca puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh, menulis puisi, dan mendeklamasikan. Kegiatan ini menyebabkan seseorang memahami puisi secara mendalam, merasakan apa yang ditulis penyair, mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung didalam puisi, dan menghargai puisi sebagai karya sastra seni keindahan dan kelemahan.

Kegiatan apresiasi puisi tidak dapat dilepaskan dari pemahaman struktur teks puisi. Kegiatan mengapresiasi puisi dapat dilakukan dengan memahami struktur teks yang membangun puisi. Dengan demikian, untuk mengenal, memahami, dan menghargai puisi, dapat dilakukan dengan mengenal struktur bagian puisi tersebut, baik menyangkut unsur isi maupun bentuk.

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai apresiasi, dapat disimpulkan bahwa apresiasi puisi adalah suatu upaya menggauli puisi melalui proses merasakan, memahami, dan menikmati puisi yang melibatkan unsur kognitif, emotif, dan evaluatif, sehingga timbul penghargaan, kepekaan perasaan, dan mampu mengkritisi puisi yang diapresiasi.

2.   Tingkatan Apresiasi

Apresiasi itu terjadi secara bertahap dari mulai tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Pada tingkat permulaan atau rendah masih terlibat perasaan pribadi, sedang pada perkembangannya yang lebih tinggi kemampuan intelektual mengatasi keterlibatan emosional itu. Oleh kerena itu, apresiasi seseorang dapat dikembangkan ke arah yang lebih tinggi. Tingkatan apresiasi merupakan tahap-tahap apresiator dalam memahami puisi dari mulai tingkat yang paling mudah yaitu mengenal puisi hingga mengkritisi puisi. Mengapresiais puisi hampir sama dengan mengapresiasi film. Lewat media akan memudahkan menghayati dalam penangkapan ide yang terkandung dalam puisi, yaitu melukiskan atau menggambarkan imaji dalam puisi sehingga terlihat objeknya secara jelas.

Khusus pembelajaran apresiasi puisi Oemarjati (dalam Anggraini dan C. D. Diem 2004) menyatakan bahwa hasil yang ingin dicapai melalui pembelajaran puisi adalah agar siswa mampu memahami, menikmati, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam puisi karena tujuan pembelajaran puisi adalah memperkaya pengalaman siswa dan menjadikan siswa lebih tanggap terhadap kejadian yang ada disekelilingnya. Disick menyebutkan adanya empat tingkatan apresiasi, yaitu

Pada tingkat pertama, yaitu menggemari berarti keterlibatan batinnya belum kuat. Apresiator baru sering terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan puisi. Kedua, yaitu menikmati keterlibatan batin pembaca terhadap puisi sudah semakin mendalam. Pada tahap ini pembaca atau apresiator mampu menikmati keindahan yang ada dalam puisi itu secara kritis. Ketiga, yaitu mereaksi secara kritis terhadap puisi karena ia mampu menafsirkan dengan seksama dan mampu menilai baik buruknya sebuah puisi. Keempat, yaitu produktif, apresiator puisi mampu menghasilkan (menulis) (dalam Waluyo 2008: 45).

Hal lain yang perlu diketahui dalam memahami puisi adalah puisi memiliki dua level makna. Makna tersebut adalah makna literal (literal meaning) dan makna simbolik (symbolic meaning). Makna pertama tentunya lebih mudah daripada makna yang kedua karena makna pertama tidak jauh berbeda dengan apa ang tertulis dalam teks, sedangkan makna simbolis menuntut kemampuan pembaca untuk melihat jauh hal-hal yang terdapat pada puisi tersebut.

Tingkatan dalam apresiasi sebagai tolok ukur kualitas si apresiastor dalam mengenal secara akrab sebuah puisi yang memiliki makna luas. Keakraban ini akan memengaruhi sikap apresiasor dalam memahami dan menghargai puisi. Seorang apresiator juga harus memiliki bekal-bekal tertentu yaitu, (1) kepekaan emosi dan perasaan seningga mampu memaknai dan menikamati unsur-unsur keindahan yang terdapat dalam cipta sastra, (2) memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan, (3) memahami unsur-unsur intrinsik karya sastra yang berhubungan dengan telaah teori sastra.

Sejalan dengan tingkatan apresiasi puisi, pelaksanaan pengajaran apresiasi puisi hendaknya diarahkan pada keterlibatan langsung siswa dalam pengalaman puisi, artinya pengalaman siswa yang melibatkan siswa pada pencarian nilai-nilai keindahan dan penemuannya sekaligus. Menurut Sumardi dan Zaidan (2008: 39) prosedur pengajaran apresiasi puisi melalui tahap-tahap, yaitu (1) tahap penikmatan puisi, (2) tahap pemahaman puisi, (3) tahap pengungkapan pengalaman puitis (kemampuan ekspresi).

3.   Ragam Apresiasi Puisi

Ada bermacam-macam jenis puisi yang ditulis para penyair Indonesia. Karya sastra tidak bersifat otonom. Dalam memahami makna karya sastra, kita mengacu pada beberapa hal yang erat hubungannya dengan puisi tersebut. Dalam pemahaman puisi, hal yang dipandang erat hubungannya adalah jenis puisi itu sendiri dan sudut pandang penyair. Sebenarnya ada banyak sekali macam-macam puisi, dan bagaimana penyair dalam menyampaikan inspirasinya, serta bagaimana menafsirkan makna puisi dengan mudah. Sehingga mudah mengklasifikasikan, termasuk jenis puisi apakah yang kita ciptakan.

H Hudson menyatakan adanya puisi sebyektif dan puisi objektif (1959: 96). Cleanth Brooks menyebut adanya puisi naratif dan puisi deskriptif (1979: 335-356). David Daiches menyebut adanya puisi fisik, platonic, dan metafisik (1948: 145). Kennedy menyebut adanya puisi konkret dan balada (1071: 116-226). Dalam kumpulan puisi Rendra, kita mengenal judul- judul: balada, romansa, stanza, serenada, dan sebagainya. Ada juga parabel atau alegori. Sedangkan istilah ode, himne, puisi kamar, dan puisi auditorium juga sering kita jumpai.

4.    Pendekatan Ekspresif dalam Apresiasi Puisi

Pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang menitik beratkan pada pengekspresian luapan perasaan pengarang yang dituangkan dalam karya sastra. Pendekatan ekspresif disebut juga pendekatan emotif. Pendekatan ini sangat tepat digunakan dalam pengapresiasian sastra secara reseptif. Hal ini dikarenakan pendekatan tersebut memiliki tujuan yang hampir sama yaitu menitik beratkan pada penikmatan, pemahaman serta pengkajian karya sastra. Misalnya saja ketika kita sedang membaca puisi, Selama kita membaca puisi kita secara tidak langsung melakukan proses pengkajian terhadap unsur-unsur penyusun puisi yang sedang kita baca.

Setelah kita mengkaji unsur-unsur puisi tersebut, kita akan dapat memahami maksud dari puisi tersebut, Apa pesan moral yang ingin disampaikan pengarang yang terkandung dalam puisi tersebut, serta apa yang bisa kita komentari dari puisi tersebut. Kemudian dari pemahaman yang terbentuk dalam diri kita, Kita dapat menemukan titik keindahan dari puisi yang kita baca.

Secara rohaniah atau kejiwaan kita akan memperoleh kepuasaan batin atau hiburan batin dari bentuk keindahan puisi yang kita dapatkan. Perbedaan dari tiap pendekatan dapat kita tentukan dengan cara memahami tujuan atau pengertian dari masing-masing pendekatan apresiasi sastra. Untuk pendekatan emotif, pendekatan ini lebih menekan kan pada penikmatan dalam hal mengindahkan karya sastra.

5.   Pendekatan Parafrastis dalam Apresiasi Puisi

Pendekatan apresiasi karya sastra adalah seperangkat asumsi dan prinsip yang berhubungan dengan sifat-sifat sajak atau karya sastra pada umumnya. Pendekatan bersifat aksiomatis, artinya ia hanya memberikan prinsip-prinsip, aksioma-aksioma tentang sajak. Ia membicarakan sifat-sifat personal subject matter yang didekati. Pendekatan parafrastis ini berangkat dari sebuah asumsi bahwa kata-kata dalam puisi pada umumnya padat dan sering mengalami elipsis/penghilangan.

Waluyo dalam buku Apresiasi Puisi (2002: 1) menyatakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. Untuk itu memahami sebuah puisi yang cenderung mengalami elipsis dan pemadatan makna ini bisa dilakukan dengan menguraikan kembali puisi atau kata-kata tersebut dengan model kalimat yang berbeda. Memparafrase sebuah puisi bisa diartikan memprosakan sebuah puisi atau mengubah bentuk puisi menjadi prosa dengan tetap mempertahankan sudut pandang dan kondisi makna tersurat dan tersirat dalam puisi tersebut.

Pendekatan parafrastis merupakan strategi pemahaman kadungan makna dalamsuatu cipta karya sastra dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang digunakan pengarangnya. Tujuan akhir dari penggunaan pendekatan parafrastis adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna yang terdapat dalam suatu cipta sastra (Aminuddin, 1987: 41). Prinsip dasar yang melandasi penerapan pendekatan parafrastis adalah:

1)  gagasan yang sama dapat disampaikan dalam untuk yang berbeda,

2) simbol-simbol yang bersifat konotatif dalam suatu cipta sastra dapat diganti dengan lambang atau bentuk lain yang tidak mengandung ketaksaan makna,

3) kalimat-kalimat di dalam baris pada suatu karya sastra yang mengalami pelesapan dapat dikembalikan lagi kepada bentuk dasarnya,

4) pengubahan suatu cipta sastra baik dalam hal kata maupun kalimat yang semula simbolik dan eliptis menjadi suatu bentuk kebahasaan yang tidak lagi konotatif akan mempermudah upaya seseorang untuk memahami kandungan makna dalam suatu bacaan, dan

5) pengungkapan kembali suatu gagasan yang sama dengan menggunakan media atau bentuk yang tidak sama oleh seorang pembacaakan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh pembaca itu sendiri (Aminuddin, 1987: 41).

Bagaimanakah sebenarnya memparafrase sebuah puisi? Sebenarnya bukan hal yang sangat sulit untuk membuat parafrase dari sebuah puisi. Membuat sebuah parafrase puisi pada dasarnya merupakan kegiatan mengembangkan atau memunculkan kembali bagian-bagian dari puisi tersebut yang sebenarnya sengaja dihilangan oleh seorang penulis (Atmazaki, 1993: 127). Membuat sajak, sebenarnya, tidak lain daripada mengembalikan unsur yang (menurut peneliti/kritikus, sengaja atau tidak) dihilangkan oleh penyair.

Biasanya kebanyakan puisi hanya terdiri atas penggunaan yang sangat minim. Bahkan cenderung untuk tidak mengikuti aturan-aturan kebahasaan demi kepentingan rima, tipografi, dan kedalaman makna. Kerja para peneliti atau apresiator adalah berusaha mengembalikan bagian-bagian lain yang hilang agar didapatkan sebuah pemahaman yang utuh terhadap makna puisi tersebut.

Dengan memparafrase sebuah puisi, dimungkinkan akan mampu mempermudah pemahaman terhadap aspek makna dan pesan dari isi puisi tersebut. Parafrastis bisa dilakukan  dengan dua macam teknik, yaitu melengkapi bagian-bagian yang terelipsis dari puisi tersebut baik yang berupa ejaan maupun kata atau frase, dan menulis kembali dengan kalimat lain maksud dari baris-baris puisi tersebut.

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutera senja

.

Chairil Anwar

Penggalan puisi di atas dapat diparafrase dengan cara melengkapi bagian kalimat yang dielipsiskan menjadi:

Bersandar pada tarian yang berwarna pelangi

Kau di depanku bertudung dengan kain sutera pada waktu senja

Atau bisa pula dilakukan dengan cara mencoba memahami secara keseluruhan teks puisi tersebut kemudian menyampaikannya kembali dalam bentuk kalimat yang lain. Untuk teks di atas dapat diuraikan menjadi: Ketika aku berada di bayang-bayang keindahan seperti keindahan para penari dan pelangi, saat itulah kau ada di depanku, berdiri memperlihatkan kecantikanmu di bawah bayang-bayang senja.

Terlepas dari bagaimana memparafrase sebuah puisi, tidak bisa dipungkiri bahwa puisi merupakan bagian dari karya seni yang mengemban fungsi, misi, dan visi tersendiri, karya puisi tentu harus memiliki kandungan makna yang relevan dengan pesan yang hendak disampaikan oleh penyair kepada pembaca. Makna yang terkandung dalam sebuah puisi bisa bersifat tersurat (eksplisit) dan tersirat (implisit). Makna tersirat dalam sebuah puisi ditunjukkan dalam makna denotatif/makna lugas, yaitu makna apa adanya yang melekat dan tampak nyata dalam sebuah kata. Makna denotatif merupakan dasar yang dengnan pemahaman secara awam bisa dimengerti dengan mudah. Sebagai contoh dalam puisi,

Malam lebaran

Bulan di atas kuburan

Secara awam makna yang tampak dalam puisi tersebut adalah pada malam lebaran bulan bersinar di atas kuburan. Titik. Hanya sebatas itu, tidak perlu dipikirkan berbagai macam hal yang rumit di balik itu. Sedangkan makna tersirat ditunjukkan dalam bentuk makna konotatif/makna kias, yaitu kandungan lain dari maksud yang tampak seacara awam. Secara tersirat malam lebaran, bulan di atas kuburan bisa dinterpretasikan sebagaimana kesan/efek psikologis dari eufoni dan kakafoni yang dihasilkannya, misalnya:

malam → gelap, menakutkan

lebaran → kemenangan, menyenangkan

bulan → keindahan

kuburan → kelam, seram, mistis

Berdasarkan gambaran di atas, /malam lebaran, bulan di atas kuburan/ dapat diinterpretasikan tentang akan adanya jalan terang atau petunjuk untuk menyinari kita yang berupa kemenangan dan keindahan dari kekelaman yang selama ini kita alami. Atau bisa saja terjadi interpretasi sebaliknya, yaitu ketika kita berada pada titik atau derajat tertinggi dari yang bisa kita raih, justru pada saat itulah kita akan mengalami keterpurukanatau kehancuran.

Sementara itu kesan atau amanat yang disampaikan oleh penyair secara utuh justru terletak pada bagian yang bersifat implisit tersebut. Untuk itulah, demi ketercapaian penyampaian pesan moral atau amanat sebuah puisi, pemahaman terhadap kakafoni dan eufoni merupakan faktor mutlak dalam proses kreatif cipta sastra.

Selanjutnya ketika kita berbicara tentang makna, hal yang ada di depan gambaran kita adalah bagaimana kita memilih kata (diksi) yang mempunyai kandungan kandungan makna tertentu. Atau bagaimana kita memilih kata agar frase atau klausa yang dilekatinya menjadi bermakna sebagaimana yang kita harapkan. Memilih kata dalam proses kreatif cipta karya puisi memang bukan perupakan pekerjaan mudah. Dalam proses ini diperlukan kemampuan berbahasa, wawasan yang luas, serta kedalaman rasa sehingga dimungkinkan akan dihasilkan diksi yang tepat.

Dalam kehidupan sehari-hari pilihan kata yang dipergunakan oleh seorang benar-benar dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Dapat kita bandingkan pemakaian kata-kata di lingkungan militer dengan lingkungan pendidikan, atau lingkungan pekerja proyek dengan lingkungan pondok pesantren.

Terdapat perbedaan yang cukup mencolok di antara lingkungan pemakai bahasa tersebut. Bahkan dari kata-kata yang dipergunakan oleh seorang penutur bahasa, dapat diprediksikan asal lingkungan tempat tinggalnya. Dengan mengetahui bagaimana kondisi dasar yang terdapat dalam sebuah karya puisi yang berhubungan dengan rima, eufoni dan kakafoni, maupun segala unsur moralnya akan mempermudah proses memparafrase sebuah puisi.

 

C.   Puisi

1.    Hakikat Puisi

Pada hakikatnya, karya sastra puisi mengomunikasikan pengalaman yang penting karena puisi lebih terpusat dan terorganisasi. Hal yang membedakan puisi dengan karya sastra lain adalah sifat puisi yang konsentris dan intensif. Berkenaan dengan hal tersebut, melalui bentuk puisi orang dapat memilih kata dan memadatkan bahasa. Memilih kata artinya, memilih kata-kata yang paling indah dan paling tepat mewakili maksud penyair dan memiliki bunyi vokal atau konsonan yang sesuai dengan tuntutan estetika. Memadatkan bahasa artinya kata-kata diungkapkan mewakili banyak pengertian. Doyin (2008: 1) pada hakikatnya puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya.

Sesuatu yang dituangkan dalam puisi pada hakikatnya merupakan yang dipikirkan atau apa yang dirasakan oleh penyair sebagai respons terhadapa apa yang ada di sekelilingnya. Oleh karena itu, pada umumnya puisi bersifat lirik, meskipun ada juga yang berupa cerita. Kehadiran puisi biasanya dimaksudkan oleh penulisnya untuk mengabadikan pengalaman penulisnya yang dirasakan amat mengesankan dan memiliki nilai atau arti tertentu. Sumardi dan Zaidan (2008: 3) puisi adalah karangan bahasa yang khas yang memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Pengalaman batin yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik. Kekhasan susunan bahasa dan susunan peristiwa itu diharapkan dapat menggugah rasa terharu pembaca.

Bahasa yang digunakan dalam puisi mengalami pemadatan dan konotatif. Kata-kata dalam puisi benar-benar dipilih dengan mempertimbangkan nilai rasa yang menjadi ciri khas sebuah puisi. Sejalan dengan pemikiran tersebut Suharianto (2005: 34), karya sastra puisi bersifat konsentris dan intensif. Pengarang tidak menjelaskan secara perinci apa yang ingin diungkapkan, melainkan sebaliknya. Pengarang lebih mengutamakan yang menurutnya bagian tersebut bagian pokok sehingga pengarang melakukan pemadatan dan pemusatan, sedangkan Lexemburg (dalam Berdianti 2008: 12) menyebutkan bahwa puisi adalah teks monolog yang isinya bukan pertama-tama merupakan sebuah alur.

   Kata puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu Poeima yang berarti membuat, poeisis yang berarti pembuatan, dalam bahasa inggris, disebut poem atau poetry. Puisi diartikan pembuat atau pembuatan karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah (Aminuddin (2011: 134).

Menurut Hudson (dalam Aminuddin, 2011: 134), puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Ketika kita membaca suatu puisi sering kali kita merasakan ilusi tentang keindahan, terbawa dalam suatu angan-angan, sejalan dengan keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, maupun suasana-suasana tertentu.

Slametmuljana (dalam Waluyo, 1995: 23), menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk kesusastraan yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khasnya. Pengulangan kata itu menghasilkan rima, ritma, dan musikalitas. Batasan yang diberikan Slametmuljana tersebut berkaitan dengan struktur fisik saja. Sedangkan James Reeves, menyatakan bahwa puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat. Menurut Waluyo (1995: 25), puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Coleridge (dalam Pradopo, 2010: 6), mengemukakan bahwa puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya. Sedangkan menurut Carlyle, puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair dalam menciptakan puisi memikirkan bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya. Pendapat lain dikemukakan oleh Shelley, mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat, seperti kebahagiaan, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Menurut Dullah, Purnomo, dan L. Ratnawati (2005: 11),

   Dalam menulis sajak, seorang penyair menyusun baris-baris dan bait-bait dengan menggunakan kata-kata, lambang-lambang, kiasan, dan sebagainya. Semua yang ditampilkan oleh penyair mempunyai makna tertentu karena sajak merupakan ungkapan perasaan dan pikiran penyair. Oleh karena itu, sajak dikaji melalui bahasanya.

Hudson (dalam Aminuddin 2009: 134) mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampainya untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Pengertian tersebut masih dapat diterima karena kita seiring kali diajak oleh suatu ilusi tentang keindahan, terbawa dalam suatu angan-angan, sejalan dengan keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, maupun suasana tertentu sewaktu membaca puisi. Kata-kata dalam puisi berupa lambang, simbol, dan utterance atau indice, yakni kata-kata yang mengandung makna sesuai keberadaan dalam konteks pemakaian.

Masih dalam sumber yang sama mengenai telaah kata. S. Effendi mengemukakan adanya istilah pengimajian, yakni penataan kata yang menyebabkan makna-makna abstrak menjadi konkret dan cermat. Adanya kekongkretan dan kecermatan makna kata-kata dalam puisi membuat pembaca lebih mempu mengembangkan daya imajinasinya sekaligus mengembangkan daya kritisnya dalam memahami totalitas makna suatu bahasa.

Sejalan dengan pendapat tersebut Pradopo (2009: 107-108) karya sastra sebagai artefak tidak mempunyai makna tanpa diberi makna pembaca. Berdasarkan hal tersebut, maka untuk menangkap makna atau memberi makna karya sastra, harus sesuai dengan hakikat karya sastra. Pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa karya sastra adalah karya sastra yang bermedium bahasa. Bahasa dalam puisi adalah bahasa yang telah mengalami pemadatan, konotatif dan merupakan imajinasi pengarangnya sehingga dalam pengajaran puisi di sekolah perlu dikonkretkan atau divisualisasikan supaya siswa dapat dengan mudah memahami puisi yang diajarkan.

Dengan meramu pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa puisi adalah karangan imajinatif yang merupakan ungkapan perasaan atau pikiran penulisnya, kata-katanya telah mengalami pemadatan dan pemusatan, dan bentuk fisik dan batin merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Puisi juga merupakan ungkapan hati penyair dari keseluruhan pengalaman hidup yang menggunakan bahasa yang khas dalam penyajiannya. Puisi lahir dari perenungan mendalam dengan menggunakan kolaborasi antara pikiran dan perasaan sehingga menghasilkan karya yang sarat makna.

2.   Lahirnya Sebuah Puisi

Dalam penciptaan puisi ini Stephen Spender mengemukakan suatu pendapat tentang unsur-unsur yang diperlukan dalam menciptakan sebuah puisi. Pendapatnya tersebut ditulis dalam makalahnya The Making of a Poem yang mula-mula dimuat dalam Partisan Review. Isinya antara lain:

a. Konsentrasi (meliputi konsentrasi langsung yang sempurna dan konsentrasi lamban yang disempurnakan secara lambat).

b.  Inspirasi (ilham dan bisikan).

c.  Kenangan (memory).

d.  Keyakinan (faith)

e.  Lagu (song)

Hakikat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti inti sari atau dasar, atau kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan pengertian puisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Itu jika kita lihat pengertian dari setiap kata pada hakikat puisi. Selanjutnya, Pradopo menyatakan bahwa hakikat puisi bukan terletak pada bentuk formulanya meskipun bentuk formula itu penting. Hakikat puisi adalah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi. Puisi baru (modern) tidak terikat pada bentuk formal, tetapi disebut puisi juga. Hal ini disebabkan di dalam puisi modern.

3.   Unsur-unsur Pembangun Puisi

Para pakar cukup beragam di dalam memilah unsur-unsur pembangun puisi. Keragaman itu tampaknya disebabkan oleh perbedaan sudut pandang yang digunakan untuk memilah unsur-unsur puisi. Inti struktur puisi menurut Wellek (1989: 235) terdiri atas citra, metafor, simbol, dan mitos. Selanjutnya, Tompkins dan Hoskisson (1991: 427) menyatakan bahwa alat-alat puisi terdiri atas perbandingan simile dan metafor, pengulangan bunyi-bunyi pada larik atau bait, bunyi-bunyi tiruan, pengulangan kata-kata atau frase dan pemilihan kata-kata berirama.

Kalau kita perhatikan, tampaknya pembagian unsur puisi tersebut didasarkan kepada struktur lahir puisi. Pembagian tersebut belum menyentuh kepada struktur batin puisi. Waluyo (1991: 28) membagi unsur puisi atas dua unsur pokok, yakni struktur lahir dan struktur batin. Keduanya merupakan unsur-unsur yang saling mengikat membentuk totalitas makna yang utuh. Unsur-unsur tersebut meliputi pengimajian, kata konkret, majas, versifikasi, dan fotografi.

Majas merupakan lambang dan kiasan, sedangkan verifikasi terdiri atas rima, ritma, dan metrum. Struktur batin terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat. Sejalan dengan pembagian Waluyo, Ahmadi (1990: 142) juga membedakan unsur puisi terdiri atas dua unsur, yaitu unsur fisik dan mental. Bentuk fisik puisi terdiri atas larik, sajak, irama, intonasi, pengulangan; sedangkan bentuk mental terdiri atas struktur kaidah, urutan logis, pola asosiasi, citraan, dan emosi.

Aminuddin (2000: 137) membagi unsur puisi atas dua kategori pokok, tetapi dengan menggunakan istilah yang berbeda. Dia membagi unsur pembangun atas dua unsur, yakni unsur yang dapat diamati dan unsur yang tidak dapat diamati. Unsur yang dapat diamati meliputi (1) bunyi, (2) kata, (3) larik atau baris, (4) bait, dan (5) tipografi. Unsur yang tidak dapat diamati atau unsur yang tersembunyi di balik apa yang diamati secara visual disebut dengan istilah lapis makna.

a.   Diksi

Menurut kamus istilah sastra, diksi berarti pemilihan kata untuk mengungkapkan gagasan. Diksi yang baik berhubungan dengan pemilihan kata yang bermakna tepat dan selaras, yang penggunaannya cocok dengan pokok pembicaraan, peristiwa dan khalayak pembaca atau pendengar (Waluyo, 1989: 112). Dalam puisi diksi memegang peranan yang sangat penting. Puisi berbicara dengan kata, sedangkan prosa berbicara dengan kalimat. Oleh karena itu, ketepatan dalam pemilihan kata dala puisi sangat berpengaruh terhadap makna dan maksud yang hendak disampaikan serta efek emosional yang ditimbulkan.

Uraian di atas menerangkan bahwa kata-kata yang digunakan atau dipilih oleh penyair dalam puisinya sebenarnya mempunyai maksud tertentu. Apabila kata-kata tersebut diubah atau diganti serta dipertukarkan susunannya tentunya akan mengubah makna dari puisi tersebut.

Sebagai contoh dalam puisi Aku karya Chairil Anwar, salah satu barisnya berbunyi /Kalau sampai waktuku/Ku mau tak seorang ‘kan merayu/Tidak juga kau//. Susunan larik kalau sudah sampai waktuku merupakan susunan yang sangat tepat untuk mengungkapkan sampainya keakuan. Susunan itu tidak dapat dibalik, misalnya menjadi kalau waktuku sampai. Kalau tersusun demikian, terasa kekerasannya kurang tergambar secara tegas. Jika kata kalau diganti dengan kata jika, sekalipun maknanya sama, akan terasa kurang kuat dalam mengungkapkan maksud yang hendak disampaikan oleh penyair. Fonem /k/ pada awal baris akan terasa lebih kuat dan keras.

b.   Imaji dan Simbol

Dalam menulis sebuah puisi biasanya penyair tidak hanya menggunakan kata-kata yang bermakna lugas atau denotatif, tetapi juga menggunakan kata-kata yang bermakna atau mengandung arti lain atau arti konotatif. Menurut Waluyo (1991: 73) hendaknya disadari bahwa kata-kata dalam puisi bersifat konotatif, artinya memiliki kemungkinan makna yang lebih dari satu.

Arti konotatif sebuah kata menurut Sumardjo dan Saini (1991: 126) ditentukan dan dipengaruhi oleh dua lingkungan, yaitu lingkungan tekstual dan lingkungan budaya. Yang dimaksud dengan lingkungan tekstual ialah semua kata di dalam puisi menentukan arti konotataif dari kata tersebut. Sebagai contoh sederhana dapat dikemukakan pengaruh tekstual terhadap kata lesung sebagai berikut. Kalau kata lesung diikuti dengan kata pipit dan kata lesung diikuti dengan kata padi maka kata lesung akan memiliki arti konotatif yang berbeda berdasarkan adanya perbedaan kata yang mengikutinya.

Yang dimaksud dengan lingkungan budaya adalah semua kata dalam puisi maknanya tergantung pada lingkungan budaya yang melatar belakanginya. Misalnya kata teratai bagi masyarakat Indonesia kata ini mengungkapkan keindahan belaka. Akan tetapi, di India kata ini akan memiliki arti konotataif lain. Dalam hubungannya dengan arti konotatif maka akan muncul istilah imaji (citra) dan simbol. Kedua istilah itu memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaammya adalah bahwa baik citra maupun simbol makna konotatif. Adapun perbedaaanya adalah terletak pada cara pengungkapannya. Dalam imaji, kata yang digunakan maknanya diserap melalui indra. Misalnya ungkapan mawar desa, kata itu mengungkapakan kecantikan seorang gadis desa yang melibatkan indra penglihatan dan penciuman. Cara pengungkapan mawar desa berbeda dengan kata Diponegoro.

Kata Diponegoro ini membawa arti konotatif yang khas, yaitu suatu kegiatan dan perasaan patriotik, pantang menyerah, semangat yang membara. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa daya citra berhubungan dengan penggunaan indra, sedangkan makna lambang ditentukan oleh kepekaan seseorang yang merupakan hasil pendidikan dan lingkungan budayanya.

Menurut Aminuddin (2000: 140) antara lambang dan simbol serta imaji itu berbeda. Lambang diartikan sebagai kata-kata yang mengandung makna seperti makna dalam kamus (makna leksikal) sehingga acuan maknanya tidak menunjuk pada berbagai macam kemungkinaan lain (makna denotatif). Simbol diartikan sebagai kata-kata yang mengandung makna ganda (makna konotatif) sehingga untuk memahaminya seseorang harus menafsirkannya (interpretatif) dengan melihat bagaimana hubungan makna kata tersebut dengan makna kata lainnya (analisis kontekstual), sekaligus menemukan fitur semantisnya lewat kaidah proyeksi.

Selanjutnya, imaji dikenal dengan istilah pengimajian mengandung arti penataan kata yang menyebabkan makna-makna kata abstrak menjadi kongkret dan cermat. Adanya kekongkretan dan kecermatan makna kata-kata dalam puisi membuat pembaca lebih mampu mengembangkan daya imajinasinya sekaligus mengembangkan daya kritisnya dalam memahami totalitas makna suatu puisi.

Debu

Jatuh ke dalam dan hinggap di hatimu demikian

Lekat menghitam dan kemudian kadi dendam pekat

Memburumu

….

(Hamid Jabar)

c.   Gaya Bahasa

Penggunaaan bahasa yang lain yang dapat memberikan kekuatan atau daya tarik dalam sebuah puisi adalah gaya bahasa. Menurut Sumardjo dan Saini ( dalam Waluyo, 1991: 126) gaya bahasa diartikan sebagai cara menggunakan bahasa agar daya ungkap atau daya tarik atau sekaligus kedua-duanya bertambah. Ungkapan seperti Gadis itu sangat cantik, di samping tidak jelas, juga tidak menarik; lagi pula ungkapan seperti itu sudah terlalu sering didengar dan digunakanya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, isi ungkapan itu akan menjadi lebih jelas serta menarik jika diucapkan menjadi Gadis itu cantik bak bunga mawar yang sedang mekar.

Penggunaan gaya bahasa oleh seorang penyair dalam karyanya dapat bermacam-macam karena dalam daya ungkap dari setiap jenis gaya bahasa tersebut berbeda-beda. Sumardjo dan Saini ( dalam Waluyo, 1991: 127) mengemukakan bahwa gaya bahasa yang sering digunakan oleh penyair adalah simile, metafor, dan personifikasi yang datang dari daya ungkap citra dan lambang. Gaya bahasa yang lain adalah paradoks, ironi, understatement, dan overstatement yang daya ungkapnya dari cara pengungkapan tidak langsung.

d.   Bunyi

Dalam puisi bunyi mempunyai peranan yang sangat penting. Melalui bunyi kita dapat mengetahui suasana yang terkandung dalam sebuah puisi. Menurut Sumardjo dan Saini ( dalam Waluyo, 1991: 129-130) bunyi mempunyai beberapa daya, yaitu (1) persamaan bunyi memberikan kenikmatan musikal bagi pendengar dan atau pembaca dan (2) bunyi bahasa memiliki daya ungkap lain yang sangat penting.

Aminuddin (2000: 136-139) menyatakan bila berbicara masalah bunyi, kita akan memahami beberapa konsep lain, seperti rima, irama, dan ragam bunyi. Rima adalah bunyi yang berselang/berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Irama adalah paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalisasi, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu.

Timbulnya irama itu , selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral. Ragam bunyi meliputi bunyi euphony, cacophony, dan onomatope. Bunyi euphony adalah ragam bunyi yang mampu menuansakan suasana keriangan, vitalitas maupun gerak. Bunyi euphony umumnya berupa bunyi-bunyi vokal.

Berkebalikan dengan bunyi euphony, cacophony adalah bunyi yang menuansakan suasana ketertekanan batin, kebekuan, kesepian ataupun kesedihan. Bunyi ini umumnya berbentuk konsonan yang berada di akhir kata. Ragam bunyi yang berikutnya adalah onomatope adalah bunyi dalam puisi yang umumnya hanya memberikan sugesti suara yang sebenarnya. Bunyi-bunyi yang disugestikan itu dapat berupa bunyi binatang, gemuruh ombak, dan lain-lainnya. Menurut Tompkins dan Hoskisson (1991: 430) onomatope merupakan sebuah alat dalam puisi dengan menggunakan kata-kata bunyi agar lebih dapat diindra dan hidup.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bunyi dalam puisi mempunyai peranan (1) untuk menciptakan nilai keindahan lewat unsur musikalitas atau kemerduan, (2) untuk menuansakan makna tertentu sebagai perwujudan rasa dan sikap penyairnya, dan (3) untuk menciptakan suasana tertentu sebagai perwujudan suasana batin dan sikap penyairnya.

Tubuh biru

Tatapan mata biru

Lelaki terguling di jalan

.

Angin tergantung

terkecap pahitnya tembakau

bendungan keluh dan bencana

.

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki terguling di jalan

.

Dengan tujuh lubang pelor

diketuk gerbang langit

dan menyala mentari muda

melepas kesumatnya

.

Gadis berjalan di subuh merah

dengan sayur-mayur di punggung

melihatnya pertama

.

Ia beri jeritan manis

dan duka daun wortel

.

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling dijalan

.

Orang-orang kampung mengenalnya

anak janda berambut ombak

ditimba air bergantang-gantang

disiram atas tubuhnya

.

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling dijalan

.

Lewat gardu Belanda dengan berani

berlindung warna malam

sendiri masuk kota

ingin ikut ngubur ibunya

.

(Gerilya, WS. Rendra)

e.   Nada dan Suasana

Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya bercerita sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair kepada pembaca inilah yang disebut dengan nada puisi (Sumardjo dan Saini dalam Waluyo, 1991: 133). Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu. Dengan kata lain, suasana merupakan akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Misalnya, puisi yang ditulis Remy Silado yang berjudul Belajar Menghargai Hak Azasi Kawan. Puisi ini berbunyi:

Jika

laki mahasiswa

ya perempuan mahasiswi

jika

laki saudara

ya perempuan saudari

jika laki pemuda

ya perempuan ya pemudi

jika laki putra

ya perempuan putri

jika laki kawan

ya perempuan kawin

jika

kawan kawin

ya jangan ngintip.

Puisi ini bernada main-main sehingga suasana yang ditimbulkannya pun kegembiraan atau kelucuan.

f.    Tema

Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair dalam puisinya. Tema ini lahir karena adanya pokok pikiran atau pokok persoalan dalam jiwa penyair. Pokok persoalan inilah yang mempengaruhi tema puisi. Apabila dalam jiwa penyair ada pokok pikiran yang ada hubungannya dengan tuhan, maka puisinya tentu akan bertema ketuhanan. Demikian pula sebaliknya, bila ada dorongan yang kuat untuk memperotes ketidakadilan, maka tema puisinya adalah protes atau kritik sosial.

Menurut Waluyo (1991: 107) dengan latar belakang pengetahuan yang sama, penafsir-penafsir puisi akan memberikan tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tema puisi bersifat lugas (tidak dibuat-buat), objektif (tetap objektif bagi semua penafsir), dan khusus (penyair). Misalnya puisi yang ditulis oleh Toto Sudarto Bachtiar yang berjudul Gadis Peminta-minta. Puisi ini berbunyi:

Gadis Peminta-minta

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku, pad bulan merah jambu

Tapi kotaku jadi hilang tanpa jiwa

.

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil 

Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok 

Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan 

Gembira dari kemayaan riang

.

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral 

Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal

Jiwa begitu murni, terlalu murni 

Untuk bisa membagi dukaku

.

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil 

Bulan di atas itu, tak ada yang punya 

Dan kotaku, ah kotaku 

Hidupnya tak lagi punya tanda 

Puisi ini menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud menyakinkan pembaca bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Berdasarkan inti cerita tersebut dapat dikatakan bahwa tema dari puisi ini merupakan tema kemanusiaan.

g.   Amanat

Amanat atau pesan yang hendak disampaiakan penyair lewat puisinya dapat kita terima setelah kita memahami isi puisi keseluruhan melalui analisis terhadap unsur-unsur pembangun puisi di atas. Menurut Waluyo (1989: 130) amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan. Amanat yang hendak disampaiakan oleh penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang diberikan. Misalnya, puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar yang berjudul Diponegoro. Puisi ini berbunyi:

Diponegoro

Di masa pembangunan ini

tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

.

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan keris di kiri

Berselempang smeangat yang tak bisa mati

.

MAJU

.

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu

.

Sekali berarti

Sudah itu mati

.

MAJU

.

Bagimu Negeri

Menyediakan api

.

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

.

Maju

Serbu

Serang

Terjang

Amanat dari puisi ini dapat ditafsirkan bahwa di masa pembangunan ini, hendaknya kita mencontoh sifat patriotik Pangeran Diponegoro. Beliau berjuang tanpa pamrih. Sifat patriotik harus kita kobarkan dalam dada kita untuk melanjutkan pembangunan ini dengan mencontoh keteladan Pangeran Diponegoro.

h.   Tipografi

Tipografi disebut juga sebagai ukiran bentuk; ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Termasuk ke dalam tipografi ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi. Seperti kita ketahui, dalam menuliskan kata-katanya, setiap penyair memiliki kegemaran sendiri-sendiri. Ada yang selalu menuliskan semua katanya dengan huruf kecil semua, ada pula yang selalu menggunakan huruf besar pada setiap permulaan kalimat atau baris baru puisinya. Juga dalam menggunakan tanda-tanda baca. Ada yang dalam seluruh puisinya tanpa menggunakan sebuah tanda bacapun. Tetapi ada pula yang dengan setia menggunakan tanda baca.

Peranan tipografi dalam puisi, selain untuk menampilkan aspek artistik visual, juga untuk menciptkan nuansa makna dan suasana tertentu. Selain itu, tifografi juga berperanan dalam menunjukkan adanya loncatan gagasan serta memperjelas adanya satuan-satuan makna tertentu yang ingin dikemukakan penyair (Aminuddin, 2000: 146).

Mengenai tipografi yang berhubungan dengan susunan baris atau kalimat dalam tiap bait ini pun masih banyak lagi ragamnya.Adapaun maksud penyusunan tipografi yang beraneka macam itu,secara garis besar dapat dibedakan atas 2 (dua) macam :

1) Sekedar untuk keindahan indrawi; maksudnya sekedar agar susunan puisi tersebut nampak indah dipandang.

2) Untuk membantu lebih mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan.

Perwajahan puisi (tipografi) yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

Tipografi merupakan aspek bentuk visual puisi yang berupa tata hubungan dan tata baris. Tipografi kadang disebut sebagai susunan baris puisi dan ada pula yang menyebutnya sebagai ukiran bentuk. Tipografi dalam puisi dipergunakan untuk mendapatkan bentuk yang menarik supaya indah dipandang oleh pembaca. Puisi tipografi adalah puisi yang lebih mementingkan gambaran visual dari puisi tersebut. Dalam puisi tipografi seorang penyair berusaha mengekspresikan gejolak hatinya dengan lebih menonjolkan lukisan bentuk dari puisinya di samping melalui kata-kata tentunya. Berikut ini beberapa contoh berbagai tipografi tersebut.

1)   Menggunakan huruf kecil semua dan tanpa tanda baca,

paman-paman tani utun

ingatlah

musim labuh sawah tiba

duilah

.

musim labuh kurang tidur ya paman

kerja berjemur dalam lumpur tak makan

sawah-sawah menggempur hancur

merpatinya wokwok ketekur

.

(Paman-paman Tani Utun, Piek Ardijanto Suprijadi, Angkatan 66, hal. 462)

2)   Menggunakan huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca,

Di depan gerbangmu tua pada hari ini

Kami menyilangkan tangan ke dada kiri

Tegak dan tengadah menetap bangunanmu

Genteng hitam dinding kusam berlumut waktu

.

(Almamater, Taufiq Ismail, Angktan 66, hal. 151)

3)  Menggunakan huruf besar-kecil dan tanda baca lengkap,

Kukitari rumahMu.

Kukitari rumahMu bersama jutaan umat

Ketika Kauturunkan rahmat

meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata :

Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami

Ulurkan tanganMu, bimbing kami

ke jalan lurus yang Kauridoi.

Di bumi ini

dan di akhirat nanti.

.

(Sementara Thawaf, Ajip Rosidi)

4)   Sebagian baitnya menjorok ke dalam,

Laksana bintang berkilat cahaya,

Di atas langit hitam kelam,

Sinar berkilau cahya matamu,

Menembus aku kejiwa dalam

.

Ah, tersadar aku, 

Dahulu ……………………………… 

Telah terpasang lentera harapan 

Tetiup angin gelap keliling.

.

Laksana bintang di langit atas,

Bintangku Kejora

Segera lenyap peredar pula,

Bersama zaman terus berputar

.

(Sebagai Dahulu, Aoh Kartahadimaja, Gema tanah Air, hal. 51)

Beberapa tipografi lain yang digunakan penyair dalam menyampaikan puisinya dicontohkan sebagai berikut.

Bukan tidak saya letakkan,

Buah delima di atas gudang

Untuk berbuka bulan puasa

.

Bukan tidak saya katakan,

Saya hina dari orang,

Tuan katakan,tidak mengapa

.

Pohon cempedak saya tanamkan,

Pohon nanas kutanam juga,

Batang mengkudu pemagarnya

.

Bukan tidak saya katakan,

Tuan emas, saya tembaga,

Tidak sejodo keduanya

.

(M.I. Nasution, Pujangga Baru, hal. 240)

.

.

Doa Perahu

.

tuhanku

beritahu

kini

.

ke manakah

harus

kupergi

.

ke muara

menyongsong

laut

biru

.

ataukah

melawan

arus

menuju

hulu

.

(Ismed Natsir, Horison, Oktober, 1974)

.

.

aku bawakan bunga padamu

tapi kau bilang masih

aku bawakan resah padamu

tapi kau bilang hanya

aku bawakan darahku padamu

tapi kau bilang cuma

aku bawakan mimpiku padamu

tapi kau bilang meski

aku bawakan dukaku padamu

tapi kau bilang tapi

aku bawakan mayatku padmu

tapi kau bilang hampir

aku bawakan arwahku padamu

tapi kau bilang kalau

tanpa apa aku datang padamu

wah!

.

Sutardji Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK, 1981

.

.

4.   Latar Pembacaan Puisi

Kata-kata dalam puisi berupa lambang, utterance (sesuai keberadaaan dalam konteks pemakaian), dan simbol (mengandung makna ganda) sehingga dalam memahaminya seseorang harus menafsirkannya (interpretatif) dengan melihat bagaimana hubungan makna kata tersebut dengan makna kata lainnya, sekaligus berusaha menemukan fitur semantisnya lewat kaidah proyeksinya atau parafrase. Effendi (dalam Aminuddin 2009: 141) berdasarkan telaah kata dalam puisi juga terdapat pengimajian, yakni penataan kata yang menyebabkan maknamakna abstrak menjadi konkret dan cermat.

Selain pengimajian, juga terdapat pengiasan, yakni pengimajian dengan menggunakan kata-kata kias sehigga menimbulkan makna yang lebih konkret dan cermat. Agar mampu mengapresiasi dengan baik, pembaca tidak cukup hanya menghafal konsep-konsep saja, tetapi juga harus terampil mengidentifikasi ragam kata dala puisi, terampil menentukan makna kata yang satu dengan yang lain. Untuk itu, puisi dalam pembelajaranya di sekolah perlu divisualisasikan untuk mempermudah pengajarannya kepada siswa.

Erneste (dalam Haryoto 2005: 12) latar pembacaan puisi adalah tempat atau bertumpunya cerita, alur, dan tokoh-tokoh yang tercermin pada puisi yang bersangkutan. Latar berfungsi untuk menjelaskan keseluruhan lingkungan (waktu dan tempat) cerita. Selain itu, dengan latar akan terungkap kapan dan di mana suatu kejadian berlangsung. Visualisasi akan memudahkan dalam mengapresiasi puisi karena melalui visualisasi ini akan menkonkretkan kata-kata dalam puisi yang bersifat simbolis, perlambangan, dan konotatif. Visualisasi akan memberikan gambaran tentang isi dan penerjemahan kata dalam puisi. Latar berperan sebagai background yang tampil bersamaan dengan pembacaan puisi.

Dengan demikian, latar pembacaan puisi bertujuan mengkonkretkan kata-kata dalam puisi untuk memudahkan pembaca mengetahui isi puisi. Visualisasi latar pembacaan puisi diharapkan dapat membantu siswa dalam mengapresiasi puisi. Visualisasi latar pembacaan puisi juga diharapkan akan meningkatkan tingkat pemahaman siswa dalam mengetahui makna yang terkandung dalam puisi yang disajikan. Oleh karena itu, visualisasi latar pembacaan puisi dinilai sangat penting dan perlu sebagai usaha untuk memberikan gambaran secara nyata kepada siswa, sehingga siswa mampu mengapresiasi puisi secara optimal.

5.   Jenisi-jenis Puisi

Klasifikasi puisi ini berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan.

a.   Puisi Naratif

Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair. Balada adalah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut Orang-orang Tercinta. Kumpulan baladanya yaitu, Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie.

Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantic berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan. Rendra juga banyak menulis romansa. Salah satu bagian dalam Empat Kumpulan Sajak nya berjudul Romansa dan berisi jenis puisi romansa, yakni kisah percintaan sebelum Rendra menikah. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul Romance Perjalanan. Kisah cinta ini dapat huga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K. H. Priangan Si Jelita. Priode 1953-1961 banyak ditulis jenis romansa ini.

Tanah Kelahiran, 1

Seruling di pasir ipis, merdu

antara gundukan pohon pina,

tembang menggema di dua kaki,

Burangrang – Tangkubanprahu

.

Jamrut di pucuk-pucuk,

Jamrut di air tipis menurun

.

Membelit tangga di tanah merah

dikenal gadis-gadis dari bukit.

Nyanyikan kentang sudah digali,

kenakan kebaya merah ke pewayangan

.

Jamrut di pucuk-pucuk,

Jamrut di hati gadis menurun

.

(dalam Priangan Si Jelita)

b.   Puisi Lirik

Dalam puisi lirik penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya. Ia tidak bercerita. Jenis puisi lirik misalnya: elegi, ode, dan serenada. Elegi adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya Elegi Jakarta karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota Jakarta.

Serenada adalah Sajak percintaan yang bisa dinyanyikan. Kata serenada berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan Sajak Misalnya Serenada Hitam, Serenada Biru, Serenade Merah Jambu, Serenade Ungu, Serenada Kelabu, dan sebagainya. Dibelakang serenada itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, kecewa, dan seterusnya.

Ode adalah Puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, sesuatu keadaan. Yang banyak ditulis adalah pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi. Teratai Sanusi Pane, Diponegoro karya Chairil Anwar, dan Ode Buat Proklamator karya Leon Agusta merupakan contoh ode yang bagus. Berikut ini kutipan Ode Buat Proklamator, sebuah ode yang memuja tokoh proklamator Bung Karno dan Bung Hatta.

Ode Buat Proklamator

Bertahun setelah kepergiannya, kurindukan dia kembali

Dengan gelombang semangat Halilintar dilahirkannya sebuah negeri

Dalam lumpur dan lumut, dengan api menyapu kelam

Menjadi untaian permata hijau di bentangan cahaya abadi

Yang senantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi

Menguak kabur gulita mendung, menerjang benteng demi benteng

Membalikkan arah topan, menjelmakan impian demi impian

17 Agustus 1945 mereka tandatangani naskah itu

Mereka memancang tiang bendera, mengubah nama pada peta

Berjaga membacakan sejarah, mengganti bahasa pada buku

Meniup terompet dengan selaksa nada kebangkitan sukma

Kini kita ikut menumbuhkan nama di atas bengkalainya

Meruntuhkan sambil mencari, daftar mimpi membelit bulan

Perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di butan-butan

Di sawah terluka yang sakti, dibawah langit negeriku

Kata jadi pasir di bibir pantai, oh, lidahku yang terjepit

Derap suara yang gempita, cuma bertahan atau menerkam

Ya, walau tidak mudah, kurindukan semangatnya kembali

Bersama gemuruh cinta yang membangunkan sejuta rajawali

Tak mengelak dalam bercumbu, biar di ranjang bara membatu

Tak berdalih pada kekasih, biar berbisa perih di rabu

Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya tak pudar

Bagi negeriku, bermimpi di bawah bayangan burung garuda

(1979)

Dalam puisi ini, dapat diungkapkan rasa kagum penyair kepada sang proklamator. Ungkapan-ungkapan rasa kagum ini sangat mengena dan tidak bersifat klise. Kerinduan penyair untuk mendengarkan bara semangat yang ditiupkan lewat pidato-pidato yang berapi-api, dapat kita hayati sejak enam baris terakhir.

c.   Puisi Deskriptif

Dalam puisi jenis ini, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/ peristiwa, bend, atau suasana yang dipandang menarik perhatiannya. Puisi yang termasuk puisi deskriptif, misalnya satire, puisi kritik sosial, dan puisi impresionistik. Satire adalah puisi yag mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, yang dituangkannya dengan cara menyindir, atau menyatakan sebaliknya. Puisi kritik sosial adalah puisi yang juga menyatakan ketidaksenangan penyair terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan/orang tersebut. Puisi impresionistik adalah puisi yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal (Kosasih, 2006: 115).

Di atas telah dinyatakan bahwa dalam puisi deskriptif, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/ peristiwa, benda, atau suasana dipandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat diklasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya puisi satire, kritik sosial, dan puisi-puisi impresionitik. Impresionistik adalah puisi yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.

Satire adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya. Kritik Sosial adalah Puisi yang juga menyatakan ketidak senangan terhadap keadaan tau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidak beresan keadaan/ orang tersebut.

Tipe puisi deskriptif adalah puisi yang bernada melukiskan atau menggambarkan suatu objek tertentu. Objek yang dimaksud dapat berbentuk benda atau makhluk hidup. Puisi tipe deskriptif biasanya merangsang pengindraan, baik visual, auditif maupun sensual atau perasaan dan memorial atau kenangan. Berikut contoh pusisi yang dimaksud di bawah ini.

Berdiri Aku

karya  Amir Hamzah

Berdiri aku di senja senyap

Camar melayang menepis buih

Malayah kau mengurak puncak

Berjuang datang ubur terkembang

.

Angin pulang menyepik bumi

Menepuk teluk mengempas-empas

Lari ke gunung memuncak sunyi

Berayun-ayun di atas alas

.

Benang raja mencelup ujung

Naik merak mengerak corak

Elangleka sayap tergulung

Dimabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna

Rindu senda mengharu kalbu

Ingin datang merasa sentosa

Mencecap hidup bertemu tuju

d.   Puisi Kamar dan Puisi Auditorium

Istilah puisi kamar dan puisi auditorium juga kita jumpai dalam buku kumpulan puisi Hukla karya Leon Agusta. Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla (puisi yang mementingkan suara atau serangakaian suara). Puisi Kamar ialah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di dalam kamar.

Istilah puisi kamar dan puisi auditorium dipopulerkan oleh Leon Agusta dalam buku kumpulan puisinya, Hukla. Puisi kamar ialah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja. Puisi kamar lebih berisi perenungan sehingga pemaknaannya bisa dicapai lewat pemikiran yang tenang. Kebanyakan puisi Sapardi Djoko Damono bisa dikategorikan dalam jenis puisi kamar. Salah satu contoh untuk disebutkan adalah puisi berjudul Aku Ingin.

Aku Ingin

Sapardi Djoko Damono

Aku ngin mencintaimu dengan sederhana :

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu.

.

Aku ngin mencintaimu dengan sederhana :

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Tidak semua puisi dapat di bacakan di panggung. Adakalanya puisi di ciptakan penyair untuk di baca seorang diri dalam kamar. Pada contoh puisi serupa ini kamu temukan keindahannya saat di renungkan seorang diri. Karena sarat dengan lambang-lambang dan imaji. Akan tetapi, ada juga contoh puisi-puisi yang menjadi indah saat di baca di depan publik. Contoh Puisi semacam ini di sebut contoh puisi auditorium. Biasanya, contoh puisi auditorium tidak di tulis dengan bahasa yang penuh dengan lambang-lambang dan imaji yang sulit ditafsirkan. Contoh Puisi auditorium dapat di baca dengan mudah di depan publik dan mudah di pahami pendengarnya.

Puisi Auditorium adalah puisi yang cocok dibaca di auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang. Sajak-sajak Leon Agusta banyak yang dimaksudkan untuk sajak auditorium. Puisi-puisi Rendra kebanyakan adalah puisi auditorium yang baru memperlihatkan keindahannya setelah suaranya terdengar lewat pembacaan yang keras. Puisi auditorium disebut juga puisi oral karena cocok untuk dioralkan. Puisi Auditorium adalah puisi yang cocok dibacakan di auditorium, mimbar yang jumlah pendengarnya bisa dikatakan banyak. Puisi auditorium disebut juga puisi mimbar, puisi yang keindahannya semakin bergelora ketika dibaca dengan suara lantang.

Seorang anak kecil

Bermata pucat sayu hampir bolong

Bersandar terlongong

Perut kosong penuh koreng

Menahan lapar teramat sangat

Di kursi terminal

.

Seorang nyonya

Dengan gincu merah di bibirnya

Perhiasan kuning di seluruh tangannya

Menahan napas akan bau keringan

Orang-orang yang berdesakan

Di sudut kursi terminal

.

Pengemis tua

Bersandar kelelahan

Di kursi terminal

Menunggu seseorang memberinya recehan

Meski lelaki yang berseragam itu

Memaki, menendang, mengusir pergi

Si anak berucap,

‘’Oh, betapa laparnya perutku.’’

Si nyonya berkata,

‘’Oh, betapa baunya tempat ini.’’

Dan si pengemis tua menangis,

‘’Oh, beta tidak enaknya jadi orang kecil.’’

Dan kursi terminal cuman membisu

Tak sedikit pun peduli

e.   Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal

Pembagian puisi oleh David Daiches ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam puisi itu. Puisi fisikal adalah Puisi bersifat realistis, artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang didengar, dilihat, atau dirasakan merupakan objek ciptaannya. Puisi-puisi naratif, balada, impresionistis, juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal. Puisi fisikal berisi pelukisan kenyataan yang sebenarnya, apa yang dilihat, didengar, atau dirasakan oleh penyair. Puisi-puisi naratif, balada, puisi impresionistik, dan puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal (Waluyo, 1995: 138).

Puisi platonik adalah Puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Dapat dibandingkan dengan istilah Cinta Platonis yang berarti cinta tanpa nafsu jasmaniah. Puisi-puisi ide atau cita-cita, religius, ungkapan cinta luhur seorang kekasih atau orang tua kepada anaknya dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi puisi platonik.

Puisi Metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius di satu pihak dapat dinyatakan puisi platonic (menggambarkan ide atau gagasan penyair), di lain pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (mengajak pembaca merenungkan hidup, kehidupan, dan Tuhan), karya-karya mistik Hamzah Fansuri seperti Syair Dagang, Syair Perahu, dan Syair Si Burung Pingai dapat dipandang sebagai puisi metafisikal. Kasidah-kasidah Al-Barzanji karya Jafar Al-Barzanji dan tasawuf karya Jalaludin Rumi dapat diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.

Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan atau ketuhanan. Puisi religius di satu sisi dapat dinyatakan sebagai puisi platonik (menggambarkan ide atau gagasan penyair), dan di sisi lain dapat juga disebut sebagai puisi metafisik (mengajak pembaca merenungkan kehidupan atau ketuhanan). Sebagai contoh, puisi-puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri selain sebagai puisi platonik, juga merupakan puisi metafisik.

Ittihad

lalu atas izinmu

kita pun bertemu

.

dan senyummu

menghentikan jarak dan waktu

.

lalu atas izinku

kita pun menyatu

.

(Negeri Daging, 33)

f.    Puisi Subjektif dan Puisi Objektif

Puisi Subjektif disebut juga Puisi Personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang ditulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subjektif, karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian pula puisi lirik dimana aku lirik bicara kepada pembaca. Puisi subjektif atau bisa disebut puisi personal adalah puisi yang mengungkapkan gagasan, pemikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi ekspresionis semacam puisi lirik dapat dikategorikan sebagai puisi subjektif.

Puisi objektif berarti Puisi yang mengungkapkan hal-hal diluar diri penyair itu sendiri. Puisi objektif disebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakan adalah puisi objektif, meskipun juga ada beberapa yang subjektif. Puisi objektif atau puisi impersonal merupakan puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Jenis-jenis puisi yang bisa digolongkan sebagai puisi objektif adalah puisi naratif dan deskritptif, meskipun ada di antaranya yang subjektif (Waluyo, 1995: 138)

g.    Puisi Konkret

Puisi konkret sangat terkenal dalam dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1770-an. X. J. Kennedy memberikan nama jenis puisi tertentu dengan nama puisi konkret, yakni puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut pandang (poem for the eye). Kita mengenal adanya bentuk grafis dari puisi, kaligrafi, ideogramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menunjukkan pengimajian lewat bentuk grafis. Dalam puisi konkret ini, tanda baca dan huruf-huruf sangat potensial membentuk gambar. Gambar wujud fisik yang kasat mata lebih dipentingkan daripada makna yang ingin disampaikan. Contoh dalam bahasa Inggris, misalnya karya Joice Klimer berikut.

t

ttt

rrrrrrr

eeeeeeeee

???

Kata yang hendak dinyatakan dalam puisi ini hanyalah tree, namun karena membentuk gambar pohon natal, maka pembaca mengetahui bahwa yang dimaksud penyair adalah pohon natal. Karya Sutardji banyak sekali yang dapat diklasifikasikan sebagai puisi konkret. Kemudian diikuti oleh penyair-penyair yang lebih muda. Puisi konkret ada yang berbentuk segi tiga, kerucut, belah ketupat, piala, tiang lingga, oval, spindle, ideografik, dan ada juga yang menunjukkan lambang tertentu.

Puisi konkret (poems for the eye) diartikan sebagai puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahannya dari sudut penglihatan (Kennedy lewat Waluyo, 1995: 138). Jenis puisi ini mulai dipopulerkan sejak tahun 1970-an oleh Sutardji Calzoum Bachri. Pada tahun 1975, Jeihan Sukmantoro juga menulis puisi konkret, walau masih dalam geliat puisi mbeling.

ooooooooo

ooooooooo

ooooooooo

ooooooooo

ooooooooooooooooooooooooooo

ooooooooooooooooooooooooooo

ooooooooooooooooooooooooooo

ooooooooooooooooooooooooooo

ooooooooo

ooooooooo

ooooooooo

ooooooooo

S.O.S

O 2

!

.

(Mata Mbeling Jeihan, hal. 49)

h.   Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis

Memahami sebuah puisi, sesungguhnya kita menghadapi sebuah obyek yang berada di balik tirai. Ada kalanya kain tirai terbuat dari rajutan yang sangat rapat sehingga kita memerlukan mata yang jeli dan kesabaran dalam melihat dan menafsirkan obyek yang berada di balik tirai. Ada kalanya juga kain tirainya tersulam dengan renggang sehingga secara mudah kita dapat mengetahui siapa yang berada di baliknya.

Begitu juga puisi, terkadang kita sangat susah dan lambat untuk memahami maksudnya, terkadang begitu mudah dan cepat untuk mengerti maknanya. Dalam hal ini, puisi terbagi dalam tiga jenis, yaitu puisi transparan (atau polos, atau diafan), puisi gelap, dan puisi prismatis. Ketiga jenis puisi ini bisa diibaratkan seperti terang benderang, gelap, dan remang-remang.

Puisi diafan atau puisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret dan bahasa figuratif, sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi yang demikian akan sangat muda dihayati maknanya. Puisi-puisi anak-anak atau puisi karya mereka yang baru belajar menulis puisi dapat diklasifikasikan puisi diafan. Mereka belum mampu mengharmoniskan bentuk fisik untuk mengungkapkan makna. Dengan demikian penyair tersebut tidak memiliki kepekaan yang tepat dalam takarannya untuk lambang, kiasan, majas, dan sebagainya. Jika puisi terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sebaliknya jika puisi itu kering akan majas dan versifikasi, maka itu akan menjadi puisi yang bersifat prosais dan terlalu cerlang sehingga diklasifikasikan sebagai puisi diafan.

Puisi gelap menurut Waluyo (1995: 140), adalah puisi yang terbentuk dari dominasi majas atau kiasan sehingga menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sementara itu, Sutardji Calzoum Bachri mengidentifikasikan puisi-puisi yang ditulis era 80-90an sebagai puisi gelap. Afrizal Malna adalah salah satu penyair yang menulis puisi gelap kala itu. Menurut Sutardji, (lewat Sarjono, 2001: 102), gelapnya puisi 80-90an memiliki pengertian mendua, yakni (1) persoalan komunikasi puisi (2) persoalan gagalnya pengucapan puitik.

Sementara itu, Abdul Wachid B. S. (2005: 50) dan Korrie Layun Rampan (2000: xxxiii) memandangnya lain. Fenomena puisi gelap dan gelapnya puisi dipahami sebagai ‘taktik’ untuk tetap berpuisi dalam situasi dan kondisi kehidupan bernegara yang represif. Berangkat dari realitas sosial yang dipahami oleh penyair sebagai peristiwa individu di satu sisi dan sebagai peristiwa sosial di sisi lain, puisi gelap pada waktu itu tetap menyampaikan ironi dan kritik sosial sebagai tugas sastra.

Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma. Ada bermacam-macam makna yang muncul karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragam itu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut.

Penyair-penyair seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis. Namun belum tentu semua puisi yang dihasilkan bersifat prismatis. Hanya dalam suasana mood seorang penyair besar mampu menciptakan puisi prismatis. Jika puisi itu diciptakan tanpa kekuatan pengucapan, maka niscaya tidak akan dapat dihasilkan puisi prismatis. Puisi-puisi dari orang yang baru belajar menjadi penyair biasanya adalah puisi diafan. Namun kadang-kadang juga kita jumpai puisi gelap. Contoh kutipan puisi prismatis :

Pada jam ke-24

kota seperti kiamat:

Sydney telah terkunci

dalam gelas pagi

.

Ada bulan mengukur luas

laut dan musik panas

Ada beton membentang bentuk

dan bayang hanya merunduk

.

(Sydney: Goenawan Mohammad, 1979)

i.    Puisi Pernasian dan Puisi Inspiratif

Pernasian adalah sekelompok penyair Prancis pada pertengahan akhir abad 19 yang menunjukkan sifat puisi-puisi yang mengandung nilai keilmuan. Puisi pernasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair. Puisi-puisi yang ditulis oleh ilmuwan yang kebetulan mampu menulis puisi, kebanyakan adalah puisi pernasian.

Puisi-puisi Rendra dalam Potret Pembangunan dalam puisi yang banyak berlatar belakang teori ekonomi dan sosiologi dapat diklasifikasikan sebagai puisi pernasian. Demikian juga puisi-puisi Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri yang sarat dengan pertimbangan keilmuan.

Puisi Inspiratif diciptakan berdasarkan mood atau passion. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar terlibat kedalam puisi itu. Dengan mood, puisi yang diciptakan akan memiliki tenaga gaib, sekali baca habis. Pembaca memerlukan waktu cukup untuk menafsirkan puisi prosaic seperti karya penyair-penyair tahun 1970-an dibawah ini, termasuk puisi yang menggunakan bahasa pernasian.

Karena Jajang

Tuhan

Saya minta duit

Buat beli sugus

Karena Jajang

Lagi doyan sugus

j.   Stansa

Jenis puisi yang bernama stanza kita jumpai dalam Empat Kumpulan Sajak karya Rendra. Stanza artinya puisi yang tediri atas 8 baris. Stanza berbeda dengan oktaf karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam oktaf adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam setanza seluruh puisi itu hanya terdiri atas 8 baris. Berikut ini dikutip contoh stanza yang ditulis sekitar tahun 1969.

Malam Kelabu

Ada angin menerpa jendela

Ada langit berwarna kelabu

Hujan titik satu-Saturday menatap cakrawala malam jauh

Masih adakah kuncup-kuncup mekar

Atau semua telah layu

Kelu dalam seribu janji

Kelam dalam penantian

.

(Herwa, 1969)

k.   Puisi Demonstrasi dan Pamflet

Seperti halnya puisi pamflet, puisi-puisi demonstrasi merupakan ungkapan sepihak, sehingga kebenaran sulit ditrima secara objektif. Pihak yang dibela diberikan tempat dan kedudukan yang terhormat dan serba benar, sedang pihak yang dikritik dilukiskan berada dalam posisi yang kurang simpatik.

Puisi demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufiq Ismail dan mereka yang oleh Jassin disebut angkatan 66. puisi ini melukiskan dan merupakan hasil refleksi demonstrasi para maha siswa dan pelajar sekitar tahun 1966. Menurut subagio Sastrowardoyo, puisi-puisi demonstrasi 1966 bersifat kekitaan, artinya melukiskan perasaan kelompok, bukan perasaan individu. Puisi-puisi mereka adalah endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional selama penyair terlibat dalam demonstrasi 1966. gaya paradoks dan ironi banyak kita jumpai. Sementara itu, kata-kata yang membakar semangat kelompok banyak dipergunakan, seperti kebenaran, kamanusiaan, tirani, kebatilan, dan sebagainya. Di bawah ini dikemukakan salah satu contoh.

Mimbar

Dari mimbar ini telah dibicarakan

Pikiran-pikiran dunia

Suara-suara kebebasan

Tanpa ketakutan

Dari mimbar ini diputar lagi

Sejarah kemanusiaan

Pengembangan teknologi

Tanpa ketakutan

Di kampus ini

Telah dipahatkan

Kemerdekaan

Segala despot dan tirani

Tidak bisa dirobohkan

Mimbar kami

.

(Taufiq Ismail, 1966)

Puisi pamflet juga mengungkapkan protes social. Disebut puisi pamflet karena bahasanya adalah bahasa pamflet. Kata-katanya mengungkapkan rasa tidak puaas kepada keadaan. Munculnya kata-kata yang berisi protes secara spontan tanpa proses pemikiran atau perenungan yang mendalam. Istilah-istilah gagah membela kelompoknya disertai dengan istilah tidak simpatik yang memojokkan pihak yang dikritik. Seperti halnya puisi demonstrasi, bahasa pusi pamflet juga bersifat prosaic.

Rendra adalah tokoh puisi pamflet. Didepan telah diberikan salah satu contoh puisi pamflet Rendra yang berjudul Sajak Burung Kondor. Kata-kata cukong, dan kondom dinyatakan bersama dengan kata-kata penderitaan, kelaparan, dan kesengsaraan rakyat kecil yang dibela. Dalam pusi-puisi pamflet banyak kita jumpai kata-kata tabu yang diungkapkan penyair untuk menunjukkan kedongkolan hati penyair kepada pihak yang dikritik atau terhadap keadaan yang tidak memuaskan dirinya.

Puisi pamflet Rendra kehilangan makna konotatif, suatu kehebatan Rendra dalam menciptakan puisi pada tahun 50-an. Kata-kata kasar, ungkapan-ungkapan langsung ke sasaran, dan hiperbola yang bertujuan memojokkan pihak yang dikritik banyak kita jumpai dalam puisi-puisi pamflet Rendra. Puisi-puisi pamflet Rendra ini mengingatkan kita akan puisi-puisi Jerman pada awal industrialisasi di sana. Puisi-puisi pamflet Rendra kebetulan merupakan reaksi terhadap industrialisasi yang berkembang pesat sekitar tahun 1974 (seperti halnya puisi pamflet Jerman). Berikut ini dikutip salah satu puisi pamflet Rendra

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong

Melihat Indonesia Raya

Mendengar 130 juta rakyat

Dan di langit

Dua tiga cukong mengangkang

Berak di atas kepala mereka

.

Matahari terbit

Fajar tiba

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

.

Aku bertanya

Tetapi pertanyaan-pertanyaanku

Membentur meja kekuasaan yang macet

Dan papan tulis-papan tulis para pendidik

Yang terlepas dari persoalan kehidupan

.

Delapan juta kanak-kanak

Menghadapi satu jalan panjang

Tanpa pilihan

Tanpa pepohonan

Tanpa dangau persinggahan

Tanpa ada bayangan ujungnya

.

Menghisap udara

Yang disemprot deodorant

Aku melihat sarjana-sarjana menganggur

Berpeluh di jalan raya

Aku melihat wanita bunting

Antri uang pensiunan

.

Dan di langit

Para teknokrat berkata:

.

Bahwa bangsa kita adalah malas

Bahwa bangsa mesti dibangun

Mesti di up-grade

Disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

.

Gunung-gunung menjulang

Langit pesta warna di dalam senjakala

Dan aku melihat

Protes-protes yang terpendam

Terhimpit di bawah tilam

.

Aku bertanya

Tetapi pertanyaanku

Membentur jidat penyair-penyair salon

Yang bersajak tentang anggur dan rembulan

Sementara ketidak adilan terjadi disampingnya

Dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

Termangu-mangu di kaki dewi kesenian

.

Bunga-bunga bangsa tahun depan

Berkunang-kunang pandang matanya

Di bawah iklan berlampu neon

Berjuta-juta harapan ibu dan bapak

Menjadi gemalau suara yang kacau

Menjadi karang di bawah muka samodra

.

Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing

Diktat-diktat hanya boleh memberi metode

Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

Kita mesti keluar ke jalan raya

Keluar ke desa-desa

Mencatat sendiri semua gejala

Dan menghayati persoalan yang nyata

.

Inilah sajakku

Pamplet masa darurat

Apakah artinya kesenian

Bila terpisah dari derita lingkungan

Apakah artinya berpikir

Bila terpisah dari masalah kehidupan

l.   Alegori

Puisi sering-sering mengungkapakan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah parable yang juga disebut dongeng perumpamaan. Dalam kitab suci banyak kita jumpai dongeng-dongeng perumpamaan yang maknanya dapat kita cari dibalik yang tersurat. Puisi Teratai karya Sanusi Pane boleh dikatakn sebagai puisi alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh pendidikan. Kisah tokoh pendidikan yang dilukiskan sebagai teratai itu digunakan untuk memberi nasihat kepada generasi muda agar mencontoh teladan teratai itu. Cerita berbingkai seperti Panca Tantra, 1001 Malam, Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar juga dapat diklasifikasikan sebagai parable.

Teratai

Dalam kebun ditanah airku,

Tumbuh sekuntum bunga teratai,

Tersembunyi kembang indah permai,

Tidak terlihat orang yang lalu.

.

Akarnya tumbuh di hati dunia,

Daun bersemi laksmi mengarang,

Biarpun ia diabaikan orang,

Seroja kembang gemilang mulia.

.

Teruslah, o Teratai Bahagia,

Berseri di kebun indonesia,

Biar sedikit penjaga taman.

.

Biarpun engkau tidak dilihat,

Biarpun engkau tidak diminat,

Engkaupun turut menjaga Zaman

.

(Sanoesi Pane, 1929)

6.   Pemahaman Hakikat Puisi

Hakikat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti inti sari atau dasar, atau kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan pengertian puisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Itu jika kita lihat pengertian dari setiap kata pada hakikat puisi. Selanjutnya, Pradopo menyatakan bahwa hakikat puisi bukan terletak pada bentuk formulanya meskipun bentuk formula itu penting. Hakikat puisi adalah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi. Puisi baru (modern) tidak terikat pada bentuk formal, tetapi disebut puisi juga. Hal ini disebabkan di dalam puisi modern terkandung hakikat puisi ini, yang tidak berupa sajak (parsamaan bunyi), jumlah baris, ataupun jumlah kata pada tiap barisnya.

Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk mengerti puisi itu sebagai hakikat puisi, di antaranya:

a.   Fungsi estetik

Puisi adalah karya seni sastra. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Rane Wellek dan Warren mengemukakan bahwa paling baik kita memandang kesusastraan sebagai karya yang di dalamnya fungsi estetikanya dominan, yaitu fungsi seninya yang berkuasa. Tanpa fungsi seni itu karya kebahasaan tidak dapat disebut karya (seni) sastra. Jadi pada akhirnya dalam penulisan puisi tidak sampai berkutat dan terikat pada pengertian puisi sajam melainkan pada fungsi puisi sebagai puisi hati.

b.   Kepadatan

Membuat puisi merupakan aktivitas pemadatan. Dalam puisi tidak sama peristiwa itu diceritakan. Yang dikemukakan dalam puisi hanyalah inti masalah, peristiwa, atau inti cerita. Yang dikemukakam dalam puisi adalah esensi sesuatu, hakikat. Jadi puisi itu merupakan ekspresi esensi. Karena puisi mampat dan padat, maka penyair memilih kata dengan akurat. Untuk pemadatan ini, kadang-kadang kata-kata yang hanya di ambil inti dasarnya. Imbuhan, awalan, dan akhiran sering dihilangkan.

c.   Ekspresi yang tidak langsung

Puisi itu sepanjang zaman selalu berubah. Dikemukakan oleh Riffateree bahwa sepanjang waktu, dari waktu ke waktu, puisi itu selalu berubah. Perubahan ini disebabkan oleh evolusi selera dan perubahan konsep estetik, dan hakikat puisi adalah jujur. Itu berarti menceritakan apa yang dialami, sedangkan apa yang dialami setiap orang dari masa ke masa, meskipun intinya sama yaitu manusia dan kemanusiaan namun cara pandanglah yang akhirnya mempengaruhi proses penulisan. Akan tetapi, satu hal yang tidak berubah yaitu mengucapkan sesuatu secara tidak langsung. Ucapan tidak langsung itu jalan menyatakan suatu hal dengan arti yang lain. Ketidaklangsungan ekspresi ini disebabkan oleh tiga hal, yaitu

1)  penggantian arti (displacing of meaning),

2)  penyimpangan atau pemencongan arti (distorting of meaning), dan

3)  Penciptaan arti (creating of meaning).

7.   Makna dalam Puisi

Dalam puisi, kata-kata, frasa, dan kalimat mengandung makna tambahan atau makna konotatif. Bahasa figuratif yang digunakan menyebabkan makna dalam baris-baris puisi itu tersembunyi dan harus ditafsirkan. Proses mencari makna dalam puisi merupakan proses pergulatan terus-menerus. Bahasa puisi adalah bahasa figuratif yang bersusun-susun. Semua kata memiliki kemungkinan makna ganda. Kata yang nampaknya tidak bermakna diberi makna oleh penyair. Makna kata mungkin diberi makna baru. Nilai rasa diberi nilai rasa baru. Tidak semua kata, frasa, dan kalimat bermakna tambahan. Kalau keadaannya demikian, puisi akan menjadi sangat gelap. Sebaliknya, puisi tidak mungkin tanpa makna tambahan (transparant) sehingga kehilangan kodrat bahasa puisi.

Rolland Barthes dalam kupasannya terhadap S/Z menyebutkan adanya lima kode bahasa yang dapat membantu pembaca memahami makna karya sastra. Kode-kode itu melatarbelakangi makna karya sastra. Meskipun pandangan itu diterapkan untuk prosa, namun prinsip-prinsipnya dapat digunakan untuk puisi juga. Lima kode itu, ialah:

a.   Kode Hermeneutik (Penafsiran)

Dalam puisi, makna yang hendak disampaikan tersembunyi, menimbulkan tanda tanya bagi pembaca. Tanda tanya itu merupakan daya tarik karena pembaca penasaran ingin mengetahui jawabannya. Misalnya, dalam puisi, Senja Di Pelabuhan Kecil, pembaca akan bertanya apa maksud penyair dengan judul itu? Apa makna senja dan apa makna pelabuhan. Berikut sajaknya.

Senja Di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

.

Gerimis memepercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air hilang ombak

.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

.

Dari: Deru Campur Debu (1949)

b.   Kode Proairetik (Perbuatan)

Dalam karya sastra perbuatan atau gerak atau alur pikiran penyair merupakan rentetan yang membentuk garis linear. Pembaca dapat menelusuri gerak batin dan pikiran penyair melalui perkembangan pemikiran yang linear itu. Baris demi baris membentuk bait. Bait pertama dan kedua serta seterusnya merupakan gerak berkesinambungan. Gagasan yang tersusun merupakan gagasan runtut. Jika dipelajari dengan seksama, maka kita akan menemukan kesamaan gerak batin penyair yang sama dalam berbagai puisinya. Ciri khas itu akan nampak karena seorang penyair mempunyai metode yang hampir sama dalam proses penciptaan puisi. Sulit kiranya seorang penyair mengubah teknik pengucapan puisi yang sudah dimilikinya.

c.   Kode Semantik (Sememe)

Makna yang kita tafsirkan dalam puisi adalah makna konotatif. Bahasa kias banyak kita jumpai. Sebab itu, menafsirkan puisi berbeda dengan menafsirkan prosa. Menghadapi bentuk puisi, pembaca sudah harus bersiap-siap untuk memahami bahasanya yang khas.

d.   Kode Simbolik

Kode semantik berhubungan dengan kode simbolik; hanya kode semantik lebih luas. Kode simbolik lebih mengarah pada kode bahasa sastra yang mengungkapkan/ melambangkan suatu hal dengan hal lain. Makna lambang banyak kita jumpai dalam puisi. Peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dalam puisi belum tentu bermaksud hanya untuk bercerita, namun mungkin merupakan lambang suatu kejadian. Bahkan mungkin merupakan lambang kejadian yang akan datang. Misalnya, nyanyian “semut ireng” (semut hitam) yang terkenal dalam sastra jawa merupakan lambang kejatuhan kerajaan surakarta. Secara khusus, kata-kata dan lukisan peristiwa juga penuh dengan lambang-lambang.

e.   Kode Budaya

Pemahaman suatu bahasa akan lengkap jika kita memahami kode budaya dari bahasa itu. Banyak kata-kata dan ungkapan yang sulit dipahami secara tepat dan langsung jika kita tidak memahami latar balakang kebudayaan dari bahasa itu. Memahami bahasa diperlukan cultural understanding dari pembaca.  Misalnya Dik Narti dalam puisi Rendra, sulit diterjemahkan kedalam bahasa inggris karena dalam sistem budaya bahasa inggris panggilan serupa itu tidak ada. Demikian pula kata Jeng dalam bahasa jawa. Kata Durno, Sengkuni, Kresno dan sebagainya mewakili suatu konsep makna yang hanya bisa ditelusuri melalui kode budaya jawa.

Selain kode bahasa yang dikemukakan oleh Rolland Barthes. Riffaterre juga mengemukakan pendapat tentang makna sebuah puisi. Menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 2010: 210), ketidaklangsungan pernyataan puisi disebabkan oleh tiga hal yaitu:

1) Penggantian Arti (displacing of meaning) yaitu kata-kata kiasan yang menggantikan arti sesuatu yang lain, lebih-lebih metafora dan metonimi, dalam penggantian arti ini suatu kata bisa berarti lain atau makna lain.

2) Penyimpangan Arti (distorting of meaning) yaitu penyimpangan yang dalam puisi yang mengandung ambiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense).

3) Penciptaan Arti (creating of meaning) yaitu jika ruang teks berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistik tidak ada artinya, misalnya; simitri, rima, enjembement, atau ekuivalensi-ekuivalensi makna.

8.   Pemahaman Metode Puisi

Dalam bahasa Inggris kata puisi ini adalah poetry yang erat hubungannya dengan kata poet yang berarti mencipta atau orang yang mencipta melalui imajinasinya, dan kata poem. Salah satu maksud utama puisi pada umumnya adalah not to speak but to sing yang artinya bukan berbicara tetapi berdendang/bernyanyi. Menurut ahli Watts di antara puisi adalah ekspresi yang konkrit dan yang bersifat artistk dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama, sedangkan menurut Lescelles Abercrombie puisi adalah ekspresi dari pengalaman yang bersifat imajinatif/khayalan.

Pada umumnya para penyair akan mengatakan puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata atau kombinasi kata sesedikit mungkin. Dengan kata lain: dengan kata-kata yang sesedikit mungkin ingin melukiskan/mengajarkan atau mengatakan sesuatu dengan jelas dan seluas mungkin. Tetapi yang penting di sini yaitu: bila untuk memecahkan maksud di atas maka mau tidak mau diperlukan suatu metode yang baik beserta sarana-sarana yang diperlukan, yaitu:

a.  Diksi (diction): pilihan kata.

b.  Imaji (Imagery): segala sesuatu yang dialami secara imajinatif.

c.  Kata nyata (concrete): kata yang konkret dan khusus.

d.  Majas (figurative language): bahasa kias atau gaya bahasa.

e.  Ritme (irama): turun naiknya suara secara teratur.

f.   Rima (sajak): persamaan bunyi.

.

D.   Penutup

Karya sastra dapat berfungsi sebagai media alternatif yang dapat menghubungkan kehidupan manusia masa lampau, masa kini, masa yang akan datang, juga dapat berfungsi sebagai bahan informasi masa lalu yang berguna dalam upaya merancang peradaban manusia ke arah kehidupan yang lebih baik dan bergairah di masa depan. Wellek dan Warren mengemukakan bahwa dalam aliran kritik Hegel dan Taine, kebesaran sejarah dan sosial karya sastra adalah dokumen karena merupakan monumen (document because they are monument).

Sastra pada hakikatnya berkaitan dengan berbagai cabang ilmu. Hakikat sastra ini dapat kita jelaskan dari sudut pengarang, pembaca, atau dari sudut karya sastra itu sendiri. Seorang sastrawan yang akan mencipta sastra sangatlah dituntut memiliki kompetensi bahasa. Hal inilah yang memungkinkan ide, gagasan, atau perasaan yang akan diungkapkan dapat disampaikan. Kompetensi dimaksud bukan hanya sekadar mengetahui kaidah-kaidah yang berlaku atau memahami sistem yang ada pada suatu bahasa. Sastrawan dituntut lebih dari itu. Sastrawan sangat dituntut mampu mengolah bahasa yang akan digunakannya itu secara kreatif sehingga menimbulkan daya pesona bagi pembacanya. Selain itu, ide atau gagasan dan juga perasaan yang akan diungkapkan itu merupakan pengalaman batin sastrawan yang telah melalui proses yang melibatkan berbagai pengetahuan yang dimiliki dan menghendaki pula wawasan yang luas.

Relevansi karya sastra dengan berbagai aspek kemanusiaan atau kemasyarakatan, memberi peranan yang cukup penting sebagai suatu lembaga atau institusi yang dapat dijadikan acuan dalam memahami gejala sosial yang pernah dan atau sedang berkembang pada suatu etnis atau suatu bangsa.

Pembelajaran sastra tidak terlepas dari kegiatan pendidikan. Pembelajaran lebih menekankan pada usaha perpindahan atau pengawasan pengetahuan, kecakapan dan pembinaan keterampilan kepada siswa serta dapat mengetahui lingkungan kebudayaan. Sedangkan pendidikan lebih menekankan usaha pembentukan nilai-nilai hidup, sikap norma-norma, dan pribadi siswa. Setiap perilaku tersebut tidak terlepas dari usaha pembentukan pribadi individu. Pembelajaran sastra bertujuan untuk membina apresiasi sastra, siswa dapat lebih kreatif, yaitu membina agar memiliki kesanggupan untuk memahami, menikmati dan menghargai suatu karya sastra.

Pembinaan apresiasi sastra dan pembelajaran sastra melalui usaha mendekatkan kepada sastra yakni, menumbuhkan rasa peka, dan rasa cinta kepada sastra dan menumbuhkan minat baca mahasiswa terhadap karya sastra. Dengan usaha ini diharapkan pembelajaran sastra dapat membantu menumbuhkan aspek kejiwaan, sehingga terbentuk suatu pertumbuhan pribadi yang utuh.

Pembaca memiliki kebebasan memberikan makna atau arti sebuah karya sastra. Setiap orang (pembaca) dapat memberikan makna, arti, dan respon terhadap karya sastra yang dibaca atau dinikmatinya. Makna dan arti karya itu dikaitkan dengan pengalaman batin pembaca, pengalaman hidup pembaca, dari situlah makna dibangun. Dengan demikian terjadilah keberanekaragaman makna dari setiap karya sastra. Teori ini dipopulerkan di Indonesia oleh Prof. Umar Yunus.

Pembelajaran apresiasi puisi sebagai bagian dari pembelajaran apresiasi sastra mempunyai salah satu tujuan agar mahasiswa mampu memahami puisi yang dibacanya. Untuk memahami dengan baik, diperlukan pembelajaran apresiasi puisi yang baik pula, yaitu pembelajaran yang memperhatikan konsep dasar pengajaran apresiasi sastra.

Pembelajaran puisi, sungguh akan dapat memberi warna bagi perkembangan mental siswa ke arah yang lebih positif. Sebuah keniscayaan, kalau materi pembelajaran Bahasa Indonesia (terutama pembelajaran sastra) tentulah memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan materi pelajaran lain. Materi pembelajaran sastra (puisi) harus hadir sebagai pembelajaran yang tidak saja sebagai ladang ilmu pengetahuan, namun lebih dari itu harus hadir untuk dinikmati bersama-sama oleh guru dan siswa.

Pembelajaran puisi bukan sekadar pembelajaran yang diselaraskan dengan kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru. Pembelajaran puisi (juga), sebuah proses pematangan diri siswa yang hasilnya akan diperoleh dalam sebuah proses yang panjang. Proses ketika siswa melakoni kehidupannya yang akan banyak memiliki hubungan simetris dengan peristiwa-peristiwa yang dihadirkan dalam puisi, bukan sekadar pembelajaran. Guru harus mampu menghadirkan proses pembelajaran yang menyenangkan. Ini tentu saja sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, seperti yang termaktub pada Pasal 40 ayat 2 yang menyatakan, seorang pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, inovatif, kreatif, dinamis, dan dialogis.

Pembelajaran puisi juga harus diselaraskan antara pembelajaran yang menghasilkan kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep dasar puisi dengan kompetensi komunikatif mahasiswa secara praktis tentang puisi. Kalau ditarik benang merah, porsi untuk kemampuan praktis siswa harus menjadi prioritas. Depdiknas (1997: 8) menjelaskan bahwa pendidikan sastra memupuk kecerdasan siswa hampir dalam semua aspek. Peran guru berada di garis depan dalam pembelajaran sastra. Melalui apresiasi sastra siswa dapat mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup, kecerdasan intelektual (IQ) dapat dilatih. Latihan dilakukan dengan mencari unsur-unsur yang ada dalam karya sastra.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan sastra membawa mahasiswa cerdas secara IQ, EQ, maupun SQ, artinya pendidikan sastra membawa mahasiswa pintar, terampil, dan jujur terhadap pribadinya, dengan gaya bahasa yang indah dan liku-liku kehidupan yang beragam pengarang, yang telah menciptakan karya sastra.

contoh video dalam puisi 


setelah membaca dan melihat contoh video tersebut, silakan membuat satu tugas dengan membuat video membaca puisi tema "Pahlawan". Batas waktu akan saya share. 

Contoh Template Folio Bergaris

                                                                                                 Sampang, 1 Juni 2023  ...